Karl Marx: Perjuangan Kelas dan Revolusi

Oleh Gendhotwukir, 29-02-2008 04:18
Alur dan jalan pikiran teori-teori Karl Marx sulit dimengerti kalau kita tidak memahami latar belakang gagasan-gagasan dasar dari dua pemikir sebelumnya yang tentunya sangat berpengaruh bagi Karl Marx yaitu George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) dan Ludwig Feuerbach (1804-1871).
Prinsip terpenting yang diadopsi Karl Marx dari Hegel yaitu pendekatan dialektis terhadap segala gejala yang ada. Dialektika dimengerti sebagai, “kesatuan dari apa yang berlawanan“ atau sebagai “perkembangan yang berjalan dalam langkah-langkah yang saling berlawanan“. Oleh sebab itu dalam prinsip dialektika muncul beberapa istilah yang lantas menjadi kerangka kerja ilmiahnya yaitu tesis, antitesis dan sintesis. Karl Marx lantas menempatkan prinsip-prinsip dialektika Hegal dalam menelaah sejarah.
Bagi Karl Marx sejarah adalah gerakan ke kebebasan. Sejarah berjalan dalam loncatan-loncatan dialektis. Seperti Hegel, Karl Marx pun yakin bahwa sejarah mempunyai tujuan dan ia yakin pula bahwa kebebasan akan tercapai yaitu dalam masyarakat yang tanpa kelas. Dari Hegel Karl Marx menerima paham bahwa manusia merealisasikan dirinya sendiri di dalam pekerjaannya dan bahwa sejarah adalah karyanya.
Filsafat Feuerbach yang sangat berpengaruh sampai saat ini yaitu kritiknya terhadap agama.  Bagi Feuerbach, agama hanyalah suatu proyeksi manusia. Agama adalah tanda keterasingan manusia dari dirinya sendiri. Oleh sebab itu, manusia harus meniadakan agama agar bisa keluar dari keterasingan itu. Karl Marx pada prisipnya tidak menolak kritik agama Feuerbach. Kritik Karl Marx yang dialamatkan pada Feuerbach yaitu bahwa Feuerbach tidak mempersoalkan mengapa manusia sampai mengasingkan diri dalam agama.
Karl Marx memberikan analisa tajamnya yaitu bahwa manusia terpaksa dan puas dengan perealisasian diri dalam agama saja karena keadaan masyarakat tidak mengijinkannya merealisasikan hakekatnya secara sungguh-sungguh. Tata-susunan masyarakat tidak memberi peluang bagi manusia untuk merealisasikan dirinya dengan sungguh-sungguh. Yang mendesak perlu diubah bagi Karl Marx yaitu keadaan masyarakat sekeliling yang menghalangi perealisasian hakekat manusia. Dengan demikian Karl Marx meninggalkan kritik agama dan mengarahkan elaborasinya pada masyarakat. Masyarakatlah yang harus diubah.
Berdasarkan kerangka ilmiah pemikir-pemikir sebelumnya, entah dengan alur pikiran yang searah maupun yang bertentangan dalam koridor kritik, Karl Marx menawarkan beberapa gagasan penting dan baru dalam ranah filsafat yang dalam tulisan ini hanya dibatasi pada beberapa gagasannya yaitu konsepsi tentang manusia, nilai guna dan nilai tukar, alienasi manusia, dan  perjuangan kelas dan revolusi.

Riwayat Hidup Karl Marx

Karl Marx lahir pada tahun 1818 di kota Trier di Jerman sebagai anak seorang pengacara Yahudi yang telah menjadi Kristen Protestan. Setamat SMA pada tahun 1836, ia selama satu semester belajar ilmu hukum di kota Bonn dan selanjutnya pindah ke kota Berlin untuk belajar ilmu filsafat. Selama di Berlin ia menjadi anggota kelompok orang intelektual muda yang menamakan diri Klub Doktor. Kelompok ini sangat terpengaruh  dan mengagung-agungkan seorang pemikir aliran idealisme yaitu G.W.F. Hegel yang meninggal di Berlin pada tahun 1931.

Pada tahun 1841 Karl Marx mendapat promosi menjadi doktor filsafat di Universitas Jena dengan tesisnya yaitu filsafat Demokrit dan Epikur. Tahun berikutnya Karl Marx menduduki jabatan pemimpin redaksi di sebuah harian progresif di Köln. Jabatan ini tidak bertahan lama karena adanya sensor dari Prussia. Ia terpakasa meninggalkan Jerman dan tinggal di Paris. Pada pertengahan tahun 1843 ia menikahi seorang puteri bangsawan yang bernama Jenny von Westphalen. Di Paris Karl Marx suka bergaul dan berkenalan dengan beberapa tokoh sosialis, di antaranya dengan Friedrich Engels (1820-1895) yang selama hidupnya menjadi sahabat karibnya. Di Paris inilah ia untuk pertama kalinya bertemu dengan kaum buruh yang sungguh-sungguh.
Selama di Paris Karl Marx menulis beberapa karangan penting yaitu “Tentang Masalah Yahudi”, “Pengantar Kepada Kritik Filsafat Hukum Hegel”, “Naskah-Naskah Paris tentang Filsafat dan Ekonomi Nasional” dan “Keluarga Suci”.
Pada tahun 1945 Karl Marx dan isterinya diusir oleh pemerintah Perancis. Mereka terpaksa pindah ke Brussel. Di Brussel mereka tinggal selama 2 tahun lebih dan selanjutnya pindah ke London. Pada tahun 1846 Karl Marx bersama Engels merumuskan pandangan materialis mereka tentang sejarah dalam sebuah karangan yang berjudul “Ideologi Jerman”. Pada permulaan tahun 1948 Karl Marx dan Engels menulis “Manifesto Komunis“ yang terkenal itu. Dua bulan  setelah “Manifesto Komunis” pecahlah di seluruh Eropa dengan apa yang dinamakan Revolusi ’48. Karl Marx memutuskan kembali ke Jerman dan mendirikan sebuah harian. Sayang, Revolusi ’48 itu gagal sehingga pada tahun 1849 Karl Marx terpaksa kembali lagi ke London dan menetap di sana untuk selamanya.
Di London pasca kegagalan Revolusi ’48, Karl Marx tidak memusatkan diri pada aksi-aksi praktis dan revolusioner. Ia kini memusatkan perhatiaannya pada hal-hal yang bersifat teoritis, khususnya pada ilmu ekonomi. Pada tahun 1857 Karl Mark mulai menulis sebuah buku yang ternyata baru bisa diterbitkan pada tahun 1938 dengan judul “Foundation of the Critique of Political Economy”. Buku setebal 1100 halaman ini berisi tentang masalah ekonomi dan perkembangan masyarakat. Pada tahun 1967 buku yang sangat terkenal dari Karl Marx yaitu “Das Kapital” jilid pertama terbit. “Das Kapital” jilid kedua dan ketiga baru diterbitkan oleh Engels setelah Karl Marx meninggal dunia.
Pada tahun 1864 partai-partai buruh nasional mendirikan Asosiasi Buruh Internasional.  Karl Marx masuk dalam anggota dewan. Di dalam asosiasi ini Karl Marx mengalami konflik dengan Mikail Bakunin dan akhirnya perselisihan itu menghacurkan eksistensi Asosiasi Buruh Internasional.
Hidup pribadi Karl Marx sebenarnya sangat memprihatinkan. Mereka menderita kekurangan dan kemlaratan. Dalam beberapa sumber disebutkan bahwa salah seorang anaknya mati karena kurang makan. Karl Marx tidak memiliki pendapatan yang tetap dan tidak tahu mengurus uang. Hidup keluarganya banyak disokong oleh sahabat karibnya yaitu Engel yang memiliki pabrik di Menchester.
Karl Marx besar adalah seorang yang keras kepala dan otoriter. Rekan-rekannya yang tidak suka dengan teorinya diserang dengan kata-kata yang bahkan menjelekkan nama dan kepribadian mereka. Ia bermusuhan dengan banyak teman sekerjanya. Hanya Engels yang sepertinya memahami dan mau menerima kepribadian Karl Marx. Di banyak buku Engels disebut sebagai sahabat karib Karl Marx. Tahun-tahun terakhir kehidupan Karl Marx sangat memprihatinkan. Ia banyak mengalami kesendirian dan kesepian. Karl Marx meninggal dunia pada tahun 1883 hanya diiringi oleh delapan orang yang berdiri di pinggir makamnya.

Konsepsi Tentang Manusia

Keprihatinan Karl Marx ialah manusia. Dalam beberapa naskah yang ditulisnya sekitar tahun 1932  ada indikasi bahwa Karl Marx muncul sebagai seorang pemikir humanis sejati. Kalau pada tahun-tahun sebelumnya Karl Marx lebih condong pada hukum-hukum ekonomi dan sejarah, sejak tahun-tahun ini ia berkutat dengan konsepsi tentang manusia. Pada dasarnya manusia itu harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. Pandangan Karl Mark yang secara teori bagus ini pada kenyataan hidupnya berbeda. Keluarganya miskin dan sepertinya ia tidak mampu mengaplikasikan teorinya sendiri.

Manusia harus bekerja karena manusia harus memenuhi kebutuhannya. Hal demikian berbeda dengan binatang yang langsung dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya dari alam. Manusia harus merubah alam dan dengannya manusia baru bisa hidup. Pekerjaanlah yang membedakan manusia dari binatang. Menurut Karl Marx, manusia itu makhluk ganda yang aneh. Di satu pihak ia makhluk alam seperti binatang dan dipihak lain ia harus berhadapan dengan alam sebagai sesuatu yang asing baginya. Manusia tidak tergantung dari lingkungan alam, tetapi bisa mengolah seluruh alam demi tujuannya yang macan-macam. Pekerjaan itu tanda khas yang melekat pada manusia. Pekerjaan itu tanda bahwa manusia adalah makhluk yang bebas dan universal.
Sebagai makhluk yang bebas manusia tidak hanya melakukan apa yang langsung menjadi kecondongannya. Manusia menghadapi kebutuhan-kebutuhannya dengan bebas. Manusia itu universal karena ia tidak terikat pada lingkungan yang terbatas. Manusia dapat mempergunakan seluruh alam demi tujuan-tujuannya. Seluruh alam dapat menjadi bahan pekerjaannya. Ia berhadapan dengan alam secara universal. Bagi Karl Marx, hanya manusia yang dapat berproduksi menurut hukum-hukum keindahan. Pekerjaan adalah tanda martabat manusia.
Pekerjaan itu bagi manusia lebih dari sekadar alat untuk memenuhi kebutuhan. Di dalam pekerjaan manusia merealisasikan dirinya sendiri. Hasil ukiran dari seorang pengukir mencerminkan kecakapan, kemampuan dan hakekat pengukirnya. Di dalam pekerjaan manusia mengambil dari bentuknya yang alamiah dan memberikan bentuknya sendiri kepadanya. Manusia mengobyektivasikan diri ke dalam alam melalui pekerjaannya. Produk pekerjaannya mencerminkan hakekatnya sendiri. Manusia kerasan di dalam alam karena dibenarkan hakekatnya. Dalam pelbagai pekerjaan manusia melahirkan bakat-bakatnya pada alam dan dengan demikian manusia merealisasikan dirinya sendiri.
Pada aspek lain, Karl Marx memandang bahwa pekerjaan merupakan tanda bahwa manusia itu mahkluk sosial. Manusia memerlukan orang lain. Pengakuan manusia lain dapat membuat seorang manusia bahagia. Pengakuan atas hasil kerja dari orang lain membuat seseorang menjadi bahagia dan merasa diakui. Pekerjaan adalah jembatan antara manusia yang selalu berinteraksi.
Karena pada dasarnya manusia itu mahkluk sosial, Karl Marx menolak baik individualisme maupun kolektivisme. Individualisme keliru karena manusia melalui bahasa dan pekerjaannya sudah sejak semula dibentuk dan dicetak masyarakat dan tidak dapat hidup tanpa adanya masyarakat. Kolektivisme juga keliru karena kolektivisme pada dasarnya memiliki implikasi menolak manusia dalam seluruh kekayaan hakekatnya yang konkret.

Nilai Tukar dan Nilai Guna

Karl Marx berpandangan bahwa nilai tukar sebuah barang sangat ditentukan oleh jumlah atau waktu yang diperlukan di dalam mengerjakan barang tersebut. Yang dimaksudkan dengan nilai tukar yaitu nilai sebuah barang kalau diperjual-belikan di pasar dan yang biasanya dinilai dalam ukuran jumlah uang. Sementara itu, nilai guna diukur dari gunanya suatu barang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan manusia. Nilai guna tergantung dari macam barang dan kebutuhan di dalam masyarakat. Nilai guna tidak ditentukan oleh waktu yang diperlukan untuk membuatnya. Nilai tukar sebuah barang sangat ditentukan oleh intensitas pekerjaan di dalam mengerjakan sebuah barang. Sebuah barang yang pembuatannya membutuhkan waktu dua jam bernilai dua kali lebih tinggi dari barang lain yang hanya dikerjakan dalam waktu satu jam. Meski demikian, nilai sebuah barang tidak ditentukan oleh kerja individu, melainkan oleh apa yang dinamakan oleh Karl Marx dengan “waktu kerja sosial yang diperlukan“. Artinya, waktu yang rata-rata diperlukan dan dengan kepandaian tertentu untuk membuat barang tersebut di dalam masyarakat.

Berkaitan dengan nilai tenaga kerja, Karl Marx melihat bahwa tenaga kerja dalam sistem kapitalis dipandang sebagai barang dagangan. Karena si pemilik pabrik membutuhkan tenaga kerja untuk menjalankan mesin-mesinnya, ia membeli tenaga kerja itu di pasaran dan membayarnya menurut nilainya. Sayang, banyak pemilik pabrik yang membeli tenaga kerja dengan seenaknya. Menurut Karl Marx, nilai tenaga kerja perlu ditentukan oleh nilai semua barang yang dibutuhkan tenaga kerja supaya ia dapat hidup. Nilai tenaga kerja adalah nilai makanan, tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan lainnya dari si tenaga kerja dan keluarganya. Semua ini juga ditentukan oleh tingkat sosial dan kultural dalam masyarakat tertentu.
Dalam korelasi antara buruh (tenaga kerja) dan kapitalis, Karl Marx melihat adanya ketimpangan. Hal demikian digagas dalam ajarannya tentang nilai lebih. Nilai lebih adalah diferensi antara nilai yang diproduksi selama dalam jangka waktu tertentu oleh seorang tenaga kerja dan biaya kehidupannya sendiri. Seorang buruh supaya ia dan keluarganya bisa hidup dan memenuhi kebutuhannya selama sehari membutuhkan uang sebesar Rp. 8.000,-. Jadi, nilai tenaga kerjanya yaitu Rp. 8.000,-. Untuk nilai itu ia menawarkan tenaganya di pasaran. Si kapitalis yang membutuhkan tenaga kerja tersebut membelinya dengan harga yang diinginkan si tenaga kerja tersebut. Si kapitalis kini bisa mempergunakan tenaga kerja itu semaunya karena ia telah membelinya. Secara teori si kapitalis bisa mempekerjakannya selama 24 jam penuh. Tentu saja ia tidak akan melakukannya karena kualiatas tenaga orang tersebut akan menurun. Si kapitalis juga tahu bahwa tenaga kerjanya membutuhkan waktu untuk istirahat, rekreasi dan sebagainya. Si kapitalis lantas menyuruh orang tersebut untuk bekerja 8 jam sehari.
Kita andaikan bahwa orang tersebut dalam waktu 4 jam bisa menghasilkan barang yang berharga Rp. 8.000,-. Ini artinya bahwa sebetulnya sesudah 4 jam orang tersebut bisa berhenti bekerja karena ia sudah menciptakan nilai yang dibutuhkan supaya ia dan keluarganya dapat hidup. Tetapi karena ia sudah menjual tenaga  kerjanya maka ia harus bekerja 4 jam lagi. Waktu kedua dirampas oleh si kapitalis. Waktu kedua adalah nilai lebih. Waktu kedua oleh Karl Marx disebut nilai lebih karena waktu tersebut melebihi waktu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan hidup si pekerja selama sehari. Kini pekerja tersebut dalam waktu 8 jam menghasilkan barang senilai Rp. 16.000,-  dan ia hanya mendapatkan Rp. 8.000,-.
Nilai lebih adalah keuntungan yang dikantongi si kapitalis. Dari contoh di atas, si kapitalis memperoleh keuntungan Rp. 8.000,- dalam sehari. Keuntungan itu dicurinya dari si tenaga kerja. Karl Marx menyebut keuntungan kaum kapitalis sebagai “nilai lebih yang dicuri”. Nilai lebih adalah satu-satunya sumber keuntungan bagi si kapitalis.

Alienasi Manusia

Di dalam agama manusia mengalami alienasi (keterasingan). Karl Mark tidak menolak kritik agama yang dilontarkan pendahulunya yaitu Feuerbach. Namun, Karl Marx kini telah meninggalkan kritik agama dan menawarkan gagasan yang baru dalam kaitan keterasingan manusia dalam koridor masyarakat. Karl Marx melihat bahwa manusia memang mengalami keterasingan yaitu dalam uang, pekerjaaan dan dari orang lain.

Uang adalah tanda keterasingan manusia. Seseorang bisa membeli segala barang dengan uang. Nilai yang terutama hanya nilai uang dan bukannya kekhususan barang yang telah dibeli tersebut. Barang tersebut lantas kehilangan nilai hakekatnya dan digantikan dengan nilai uang. Barang-barang alam kehilangan nilainya dan dengannya telah terasing dari manusia. Manusia membeli segala sesuatu demi uang. Relasi dengan sesama manusia pun banyak diukur dengan nilai uang. Uang mengasingkan manusia yang satu dengan yang lainnya. Manusia tidak lagi saling menghargai tetapi hanya saling mempergunakan. Hal demikian mengarahkan pada sikap egois, dimana orang lain dipandang sebagai saingan atau hanya sebagai alat untuk memenuhi kebutuhan kita.
Manusia juga terasing di dalam pekerjaannya. Meski manusia merealisasikan dirinya dalam pekerjaan dan pekerjaan itu bisa menggembirakan dan membuatnya bangga karena manusia dengannya menemukan kepuasan atas hasilnya, tetapi pada kenyataanya pekerjaan buat manusia telah menjadi pekerjaan paksa. Manusia bekerja karena itu satu-satunya jalan untuk menjamin nafkah hidupnya.
Keterasingan manusia dalam pekerjaaan dapat dilihat pada keterasingan manusia akan produknya. Hasil kerja manusia yang seharusnya menjadi kebanggaannya tidak dimilikinya. Produk itu milik orang lain yaitu si pemilik pabrik. Baru saja manusia membuatnya, produknya itu dirampas dari miliknya dan bahkan si pemilik pabrik menjualnya.
Di samping itu, manusia juga terasing dari tindakan pekerjaannya itu sendiri. Manusia (si buruh) tidak mempunyai kesempatan untuk memilih pekerjaan yang akan mampu merealisasikan dirinya sendiri dalam pekerjaaan. Kesempatan untuk itu tidak dimungkinkan karena ia hanya bisa bekerja dimana ada tempat kerja dan dia sendiri tidak menguasai tempat-tempat kerja. Tempat itu dikuasai pemodal dan si buruh hanya menerima pekerjaan apa saja yang ditawarkan oleh pemodal itu. Dengan demikian pekerjaan kehilangan artinya. Kekhususan masing-masing pekerjaan sudah kehilangan arti baginya. Ia hanya bekerja sebagai alat untuk mencapai tujuan lain yaitu memenuhi kebutuhan hidupnya.
Manusia yang menurut Karl Marx pada dasarnya bebas dan universal itu kini semakin terasing karena manusia terjebak dalam pekerjaan. Manusia bekerja seperti binatang yaitu demi satu tujuan supaya ia bisa hidup. Manusia melihat alam hanya dalam perspektif manfaatnya untuk mendapat uang. Dengan demikian, manusia tersebut mengasingkan hakekatnya yang bebas dan universal. Pekerjaan yang menyebabkan keterasingan ini pada umumnya yaitu pekerjaan upahan. Pekerjaan upahan adalah pekerjaan yang dijalankan hanya demi upah saja.
Pekerjaan upahan telah mengasingkan manusia darí orang lain karena di dalam sistem yang demikian lantas muncul kelas-kelas yang saling berhadapan dan bertentangan dan lalu saling membenci satu dengan lainnya. Di samping itu, pekerjaan upahan mengasingkan buruh di antara mereka sendiri. Hal ini terjadi karena mereka harus bersaing berebut tempat kerja. Karena keterbatasan kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan, sesama lantas menjadi saingan. Hal demikian menimbulkan jarak antar manusia dan dengannya manusia semakin terasing dari sesamanya.
Karl Marx mengajukan dua syarat agar masyarakat berkelas dapat dihapus yaitu: Pertama, cara produksi harus telah berkembang sedemikian rupa sehingga pembagian pekerjaan tidak perlu lagi. Kedua, harus telah berkembang suatu kelas yang berkepentingan untuk tidak hanya menggulingkan kelas yang berkuasa melainkan untuk menghancurkan sistem masyarakat berkelas itu sendiri dan mendirikan suatu masyarakat yang tidak ada kelasnya lagi.

Perjuangan Kelas dan Revolusi

Karl Marx melihat bahwa ketegangan antara tenaga-tenaga produksi dan hubungan-hubungan produktif terungkap dalam ketegangan antar kelas dalam masyarakat. Satu kenyataan  sosial yang tak terbantahkan yaitu bahwa di dalam masyarakat terdapat dua kelompok yang saling berhadapan secara tak terdamaikan yaitu antara kelas atas dan kelas yang tertindas.

Pertentangan kelas atas dan kelas yang tertindas tak dapat didamaikan karena bersifat obyektif. Pertentangan ini ada karena secara nyata dan tak terhindarkan masing-masing kelas ambil bagian dalam proses produksi. Di dalam proses produksi masing-masing kelas menempati kedudukannya masing-masing. Kelas atas berkepentingan secara langsung untuk menghisap dan mengeksploitasi kelas yang tertindas karena ia telah membelinya. Kelas atas menindas dan menghisap kelas bawah karena kedudukan dan eksistensi mereka tergantung dari cara kerja yang demikian. Sementara itu kelas yang tertindas berkepentingan untuk membebaskan diri dari penindasan dan bahkan berkepentingan menghancurkan kelas atas.
Perbaikan kelas-kelas tertindas tidak dapat dicapai melalui kompromi. Perbaikan tidak dapat diharapkan pula dari perubahan sikap kelas-kelas atas. Bagi Karl Marx, hanya ada satu jalan saja yang paling terbuka yaitu perjuangan kelas. “Sejarah semua masyarakat yang ada hingga sekarang ini adalah sejarah perjuangan kelas,” demikian Karl Marx menegaskan dalam bukunya “Manifesto Komunis”. Sejarah umat manusia ditentukan oleh perjuangan antara kelas-kelas. Karl Marx menolak pendapat bahwa individu dengan kehendak individualnya dapat menentukan arah sejarah. Individu hanya melakukan apa yang merupakan kepentingan kelas mereka masing-masing. Perjuangan akan sungguh-sungguh apabila bersifat subyektif, yaitu apabila kelas-kelas yang tertindas menyadari keadaan mereka, menentangnya dan berusaha untuk mematahkan dominasi kelas-kelas yang berkuasa.
Pertentangan antar kelas terjadi karena adanya pertentangan kepentingan-kepentingan kelas-kelas yang ada. Satu jalan perjuangan kelas yaitu menghancurkan sistem yang menghasilkan kepentingan-kepentingan kelas atas. Tetapi, perubahan sistem itu dengan sendirinya pasti akan ditentang oleh kelas-kelas atas. Biasanya kelas atas mempertahankan sistem dengan cara memperalat kekuasaan negara. Kelas atas membenarkan kekuasaan negara secara moral dengan menyebarkan ideologi yang menunjukkan kesan bahwa negara dan tata-susunan masyarakat itu suci, tak terjamah dan perlu didukung demi kepentingan masyarakat.
Perubahan sejarah umat manusia dalam masyarakat hanya tercapai dengan jalan kekerasan yaitu melalui suatu revolusi. Karl Marx pada dasarnya menentang semua bentuk usaha untuk memperdamaikan kelas-kelas yang bertentangan. Reformasi pada kelas atas dan usaha pendamaian antar kelas hanya akan menguntungkan kelas penindas. Karl Marx menekankan bahwa perjuangan kelas yaitu penghancuran penindasan yang terjadi dalam masyarakat. Tidak mengherankan, dalam masyarakat kapitalis Karl Marx menekankan pentingnya revolusi proletariat. Revolusi proletariat yaitu usaha mencopot hak milik kaum kapitalis atas alat-alat produksi dan menyerahkannya kepada seluruh rakyat.

Kesimpulan dan Kritik

Karl Marx memahami manusia sebagai person yang tidak boleh diperalat atau memperalat diri karena manusia adalah tujuan pada dirinya sendiri. Manusia adalah bebas dan universal. Manusia harus merealisasikan dirinya dalam pekerjaan dan tidak boleh diperbudak oleh pekerjaan.

Karl Marx berhasil menyuarakan suatu masalah yang dirasakan manusia-manusia modern yaitu keterasingannya dalam masyarakat tehnologi. Kelemahan Karl Marx bukannya karena ia memandang pekerjaan sebagai tindakan dasar manusia, melainkan karena ia menganggap sebagai satu-satunya. Karl Marx tidak melihat bahwa interaksi yaitu komunikasi antar manusia adalah tindakan yang penting juga (Jürgen Habermas). Habermas yakin bahwa keterasingan tidak akan hilang hanya karena perubahan sistem. Faktor komunikasi memainkan peranan penting untuk mengurangi keterasingan dengan jalam reformasi di dalam sistem.
Karl Marx berpandangan bahwa suatu pengurangan penindasan di dalam sistem yang ada (reformasi) tidaklah mungkin. Baginya, penindasan hanya dapat dipatahkan dengan sebuah revolusi. Kelemahan Karl Marx di sini yaitu bahwa buruh-buruh di beberapa negara kapitalis dapat memperjuangkan kemajuan mereka tanpa melalui suatu revolusi. Karl Marx tidak bisa melihat kemungkinan ini karena ia berpendapat bahwa kepentingan-kepentingan kelas atas dan kelas yang tertindas tidak akan pernah dapat diperdamaikan. Kekeliruan mendasar Karl Marx yaitu bahwa borjuasi sebagai kelas atas tidak mau mencari damai. Pada kenyataannya kelas atas menyadari kerugian kalau ada revolusi. Oleh sebab itu mereka bersedia untuk mengurangi penghisapan, memperbaiki syarat-syarat kerja, membagi kekuasaan politik dengan kaum buruh dan bahkan memberi hak kepada kaum buruh untuk ikut menentukan kebijakan perusahaan.***

Bibbliography

Baskara T. Wardaya, F.X, 2003. Mark Muda: Marxisme Berwajah Manusiawi: Menyimak Sisi Humanis Karl Marx Bersama Adam Scahft. Yogyakarta: Buku Baik.

Berlin, Isaiah, 2000   Biografi Karl Marx. Surabaya: Pustaka Prometheus.
Brouwer, Drs. M.A.W.,  1980.  Sejarah Filsafat Barat Modern dan Sejaman. Bandung: Penerbit Alumni.
Chambre, Henri, SJ, 1963.  From Karl Marx to Mao Tse-Tung. A systematic survey of Marxisme-Leninisme. New York: Kenedy.
Cohen, G.A., 1978. Karl Marx`s theory of history. Oxford: Clarendon Press.
Duden, 2001.  Philosophie. Mannheim: Duden Verlag.
Hardiman, F. Budi, 2004. Filsafat Modern, Dari Machiavelli sampai Nietzsche.Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Hirschberger, Johannes, 1980. Geschichte der Philosophie Band II (Neuzeit und Gegenwart). Köln: Komet.
Magnis Suseno, Von, SJ, 1977. Ringkasan Sejarah Marxisme dan Komunisme. Jakarta: S.T.F. Driyarkara.
—–, 1992. “Karl Marx”, dalam F.X. Mudji Sutrisno (Ed.) Para Filsuf Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Kanisius.
—–, 1992. “Marxisme dan Teori Kritis Mazhab Frankfurt” dalam F.X. Mudji Sutrisno (Ed.) Para Filsuf  Penentu Gerak Zaman. Yogyakarta: Kanisius.
—–, 1999. Pemikiran Karl Marx: Dari Sosialisme Utopis ke Perselisihan Revisionisme. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Scruton, Roger, 1986. Sejarah Singkat Filsafat Modern, Dari Descartes sampai Wittgenstein. Jakarta: P.T. Oantja Simpati.
Ziegenfuß, W., 1949. Philosphen-Lexikon; Handwörterbuch der Philosophie nach Personen. Berlin: de Gruyter.

Gendhotwukir, Penyair dan Jurnalis. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Tulisan ini  merupakan karya ilmiah dan sumber-sumber pendukung ada di penulis (kalau bibliography tidak dicantumkan).

Iklan

5 Tanggapan to “Karl Marx: Perjuangan Kelas dan Revolusi”

  1. mariEn Says:

    kehidupan memang behitu sulit…
    keadaan harus dijalani…
    perjuangan karl mark harus menjadi junjungan bagi kehidupan demi mengerti apa itu dunia dan negara..

  2. finch Says:

    kini apa yang difikirkan karl max benar terbukti…
    kita melawan kapitalisme

  3. su'eb ben janatahanlama Says:

    karl marx tidak lebih dari sekedar makhluk tuhan yang diberi kecerdasan pada pemikirannya,
    namun itu semua membawanya kepada atheisme yang sesungguhnya sangat sesat,

  4. am Says:

    innallaha la yughayiru ma bi qoumin hatta yughoziru ma bianfusihim, itulah konsep al qur`an tentang perdebatan panjang seperti konsep karl mark kaum proletar tidak akan pernah mendapatkan kemapanan tanpa merebut dari kaum borju,…………

  5. nur kholis Says:

    sebenarnya anti tesis max terhadap hegel merupakan pokok pemikiran yang ditularkan max kapada agama pada Zamannya. kenapa max sampai mengatakan agama adalah candu, itu karerna aganma kristen pada waktu itu tidak memprhatikan rakyat, yang klebih dioperhatikan adalah agama. rakyat kelaparan malah disuruh bersabar, byukakknay memberui bantuamn malah menyuruh bersabar. dalam artian agama tidak selamanya menggunakan kongnitif, rasio juga perlu digunakan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: