Revolusi Hijau Mengecewakan Petani?

Oleh Goeswono Soepardi,

Cukup mengejutkan. Sekumpulan petani yang diundang ikut merayakan Dies Natalis ke-37 IPB di Kampus Darmaga September 2000, menuntut IPB meminta maaf secara nasional atas kekecewaan petani karena revolusi hijau menyengsarakan mereka.
Alasannya, penggunaan pupuk dan pestisida telah merusak tanah dan lingkungan, sehingga menyulitkan produksi. Akibat pemakaian pupuk inorganik terus menerus dan takarannya selalu ditingkatkan, menyebabkan tanah mengalami degradasi, sehingga pemupukan tidak bisa lagi menaikkan hasil.
Pestisida yang digunakan bertubi-tubi tanpa pandang bulu menyebabkan tertempanya generasi hama dan penyakit yang jauh lebih tangguh dari sebelumnya. Varietas unggul yang selalu dimunculkan setiap kali hama/penyakit, makin tangguh dan penyerapan hara dari tanah menenggelamkan varietas milik petani yang menghasilkan nasi punel dan wangi.
Selain itu juga kian menyulitkan pelaksanaan usahatani karena petani dibingungkan oleh anjuran memakai varietas baru. Petani terus dihadapkan perubahan ke arah kian sulitnya budidaya tani dan jelimetnya saran teknis yang diberikan penyuluh pertanian. Akibatnya, petani merasa sama sekali tidak tenang memikirkan apa lagi yang harus dilakukan di musim tanam berikutnya.
Birokrat yang merencanakan sarana produksi dan penyelia teknologi (peneliti dan penyuluh) selama berpuluh tahun bisanya hanya berpikiran baku sehingga hasil perencanaan mereka berakhir dengan jumlah kredit baku, jumlah saprodi baku, teknologi budidaya baku, cara penyuluhan baku, harga beli hasil pertanian baku, dan kebijakan baku yang diberlakukan secara nasional.
Mereka tidak sadar nusantara ini merupakan kepulauan yang ekologi dan kemampuan sumberdaya alamnya berbeda. Tidak mengherankan dengan wawasan baku nasional keunggulan setempat nyaris tidak tergali. Baru lima tahun terakhir wawasan baku nasional dicampakkan, diganti wawasan tidak baku secara nasional.
Kini mulai ada anjuran memakai varietas unggul lokal, saran pemupukan yang didasarkan atas kebutuhan lokal yang menjaga keseimbangan kebutuhan tanaman dan kemampuan tanah menyediakan hara, dan lainnya. Tetapi, harga beli hasil pertanian tetap diberlakukan baku secara nasional. Meski terjadi perubahan wawasan, kinerja pertanian tetap terpuruk. Pengadaan kredit usaha tani tidak kunjung terbenahi. Harga hasil pertanian tetap gonjang-ganjing. Tidak mengherankan petani tetap merasa kecewa.
Pertanyaan menggoda, benarkah pernyataan sekumpulan petani yang datang ke IPB bahwa semua petani Indonesia mengeluhkan kesukaran yang ditimbulkan akibat revolusi hijau yang penjabaran praktiknya dalam bentuk bimbingan massal dan berkembang menjadi intensifikasi massal dan intensifikasi khusus itu menyiksa kerja petani? Benarkah dinamika usahatani dari panca usaha, berkembang menjadi sapta usaha, disempurnakan menjadi dasa usaha, membuat petani tidak tenang memikirkan apa yang harus dikerjakan di musim tanam berikutnya?
***
AGAKNYA hanya di Indonesia, ada program intensifikasi pertanian menyebabkan petani menderita. Sebelum tahun 1963, prestasi petani dalam bidang pertanian-ketika belum mengenal pupuk, belum mengenal varietas unggul, belum mengenal tandur jajar, belum mengenal tanam serempak, dan belum mengenal pestisida-adalah apa adanya.
Orang nrimo apa adanya yang dihasilkan petani, meski di sana-sini terjadi kelaparan atau busung perut. Belum semua penduduk menuntut makan nasi, meski Bung Karno berorasi, bangsa yang tidak makan nasi adalah bangsa yang masih dijajah. Herannya, yang biasa makan thiwul, jagung/sorgum, sagu, atau ubi jalar, tidak kedengaran menuntut ingin makan nasi. Mereka puas dengan apa yang mereka biasa makan.
Saat itu penduduk Indonesia belum mencapai 90 juta jiwa. Luas panen pertanian baru 10 juta hektar. Dari jumlah itu baru 30 persen yang dapat dilayani irigasi teknis. Karena produktivitas usahatani saat itu amat bersahaja, dengan area panen seluas itu dan tidak semua penduduk “biasa makan nasi”, kita tidak merasakan adanya tekanan harus mengimpor pangan.
Yang tidak terperikan ialah, dalam waktu 37 tahun kemudian penduduk melipat lebih dari dua kali menjadi 205 juta jiwa, sedangkan luas panen kita hanya bertambah menjadi 15 juta hektar dan yang dapat diirigasi teknis melompat mendekati 50 persen. Seluruh warga, melalui doktrin pegawai negeri, tentara, dan polisi mendapat jatah beras, menjadi kulino dengan nasi. Suasana adem pangan sebelum tahun 1963 tidak dirasakan lagi.
Keadaan pangan saat ini benar-benar mencekam penduduk baik sebagai konsumen maupun produsen. Petani mengeluh karena hasil jerih payahnya ditelikung kebijakan pemerintah yang mengizinkan segala macam pangan masuk dari luar secara bebas, bebas dari pembatasan jumlah dan mutu, serta bebas dari kewajiban membayar bea masuk. Belum lagi kebijakan pemerintah yang menyetujui dinaikkannya semua sarana yang terkait dengan produksi pertanian, berbelitnya prosedur mendapatkan kredit, dan melencengnya penggunaan kredit usaha tani.
Akibat kebijakan yang amburadul itu, petani dihadapkan pada biaya produksi yang tinggi dan hasil produksinya harus bersaing dengan harga pangan impor. Barangkali keluhan petani yang datang ke IPB itu dimaksudkan agar kesengsaraan akumulatif petani yang sebenarnya merupakan akibat kebijakan impor, pengadaan, dan niaga pangan pemerintah yang amburadul dicoba diteumbleuhkeun ke revolusi hijau yang penerapannya berupa intensifikasi usahatani.
Mengingat lahirnya bimbingan massal (bimas) dibidani IPB, maka tokoh bimas IPB (Prof Gunawan, Ir Sukmana (Almarhum), Ir Djatijanto, beratus staf dan beribu mahasiswa tingkat sarjana beserta Menteri Pertanian (Prof Toyib, Ir Affandi Almarhum, Prof Syarifuddin, Prof Soleh dan Prof Bungaran) dibidik sebagai penyebab sengsaranya petani. Apakah ini yang disebut reformasi di bidang politik pertanian.
Meski ada revolusi hijau yang diterjemahkan menjadi program intensifikasi yang menyebabkan kinerja pertanian meningkat seperti yang ditunjukkan produksi padi, kedelai, jagung, dan berkembang dari 2,5 ton menjadi 10 ton gabah, 0,6 ton menjadi 1,6 ton ose kedelai, dan 1,6 ton menjadi 6,8 ton pipilan jagung/hektar/musim tanam, swa sembada pangan hanya bisa dicapai tahun 1984, bertahan sampai tahun 1986. Setelah itu, pengadaan pangan (kedelai, jagung, beras, dan gula) terpuruk terus dalam ketagihan impor pangan sampai sekarang.
***
BETULKAH revolusi hijau menyengsarakan petani? Revolusi hijau lahir di Meksiko. Pakar genetika Amerika Borlaugh ketika bekerja di pusat pengembangan gandum yang berkedudukan di Meksiko berhasil merekayasa varietas gandum dengan ciri-ciri berproduksi tinggi, tahan hama/penyakit, tahan rebah, amat responsif terhadap pemupukan. Keberhasilan merekayasa varietas unggul mampu mengatasi kebuntuan produksi dan memberi harapan makan bagi umat di muka bumi yang bertambah pesat sekaligus menggugurkan teori Malthus yang mengatakan dunia tidak bisa memberi makan kalau dikaitkan dengan pertambahan penduduk yang dahsyat. Keberhasilan menembus kebuntuan produksi dan membuka harapan dapat memberi makan umat diberi nama revolusi hijau dan diakui sebagai kecemerlangan ilmiah yang diganjar hadiah Nobel yang pertama di bidang pertanian.
Nuansa keberhasilan menembus kebuntuan produksi dan membuka harapan dapat memberi makan mengilhami staf pengajar Jurusan Agronomi yang dipelopori Dr Ir Gunawan Satari dan Ir Djatijanto, dan dimotori Ir Sukmana untuk membenahi budidaya padi dan menciptakan keseragaman dan keserempakkan penerapan budidaya padi sawah.
Pembenahan budidaya mencakup penyeragaman dan keteraturan menanam (lahir teknik tandur jajar), memupuk secara tertib (cikal bakal pemupukan berimbang), dan mengendalikan gulma (lahir alat landak, semacam kitiran untuk mencabut kemudian membenamkan gulma ke dalam lumpur). Keserempakkan diarahkan untuk mendapatkan pelayanan air irigasi secara optimal (usaha menyesuaikan jadwal olah tanah dan tanam dengan sistem golongan irigasi) dan mengecoh hama/penyakit serta mengencerkan dampak hama/penyakit.
Dari hasil kerja keras itu lahir rekayasa sosial Bimbingan Massal yang di dalamnya diterapkan secara konsisten budidaya Panca Usaha Pertanian. Temuan ini merupakan revolusi budidaya tani di kalangan petani. Bimbingan Massal merupakan penerapan konsep keserempakan dimana petani secara massal dibimbing untuk menerapkan budidaya Panca Usaha secara konsisten dan benar. Dalam proses mensosialisasikan budidaya Panca Usaha Pertanian dikerahkan beratus staf dan beribu mahasiswa tingkat Sarjana IPB untuk menyuluhkan sekaligus mengawal penerapan teknologi budidaya tersebut.
Pengerahan warga civitas academica IPB merupakan wujud pengabdian sekaligus membantu penyuluh pertanian yang jumlahnya terbatas saat itu. Sosialisasi Panca Usaha Pertanian tidak terbatas di Jawa, tetapi menyebar ke seluruh Nusantara. Saat itu, Fakultas Pertanian selain IPB tergerak turut bahu membahu mewujudkan dapat dinikmatinya revolusi hijau oleh petani. Kesuksesan mereka tidak luput dari kerja keras dan keberhasilan Siregar beserta anak didiknya menghasilkan berbagai varietas unggul padi.
Berkembangnya penerapan Panca Usaha Pertanian mendorong bangkitnya gairah merekayasa varietas-varietas unggul, perlunya didirikan pabrik pupuk (urea merupakan pupuk pertama yang diproduksi di Indonesia, disusul ZA, TSP, dan lainnya), lahirnya alat pengolah tanah (traktor tangan), pemroses hasil pertanian (di antaranya perontok gabah, huller, dan lainnya), dan munculnya berbagai formulasi pestisida (sekarang sudah ada industri pestisida). Peran lembaga penelitian dan perguruan tinggi menjadi menonjol dalam menyajikan temuan teknologi baru dan berbagai penyempurnaan teknologi budidaya lama yang sasarannya adalah meningkatkan dan mengamankan produksi sekaligus mengamankan kelangsungan hidup manusia dan membuka peluang hidup bagi generasi berikut bebas dari rasa takut tidak bisa makan.
Panca Usaha Pertanian terus berkembang. Berbagai lembaga terkait, langsung atau tidak langsung, dengan pertanian diikutkan dalam Bimbingan Massal. Muncul rekayasa sosial Sapta Usaha Pertanian dan akhirnya menjadi Dasa Usaha Pertanian. Karena Panca, Sapta, atau Dasa Usaha Pertanian sebenarnya merupakan usaha mengintensifkan budidaya pertanian secara massal, maka lahir rekayasa teknologi bernama Intensifikasi Massal, Intensifikasi Umum, dan Intensifikasi Khusus. Ketiga jenis intensifikasi sebenarnya sama, hanya penekanan pada sasaran yang ingin dicapai agak berbeda dan petani yang diikutkan dalam program itu agak spesifik.
Semua program intensifikasi didampingi kesempatan memperoleh kredit usaha pertanian. Kredit diadakan agar sasaran intensifikasi tercapai. Di sini sering terjadi pemaksaan terselubung. Petani penerima kredit usaha pertanian wajib ikut program pemerintah yang pada dasarnya merupakan program peningkatan produksi dan hampir tidak memperhatikan segi komersialnya. Selama niaga komoditas pangan ada dalam genggaman monopoli pemerintah (cq Bulog) petani tidak begitu merasakan dampak negatif dari bisnis pangan. Harga beli dan jual komoditas pertanian sepenuhnya dikuasai pemerintah.
***

ERA segala diatur dan ditentukan berakhir dengan lahirnya gerakan reformasi di segala bidang. Tata ekonomi berubah total. Peran monopoli yang semula dimainkan pemerintah, dihapus. Perdagangan hampir di segala sektor seketika menjadi bebas. Keterpurukan ekonomi, ketidak-menentuan arah politik, ketidak-stabilan keamanan, dan kurang fokusnya pemerintah mempersulit kehidupan masyarakat, terutama kaum petani. Gonjang-ganjing kebijakan di bidang impor pangan, membuat kehidupan petani menjadi tidak menentu. Pantas mereka kecewa. Pantas mereka mudah termakan isyu, kesengsaraan kehidupan mereka akibat revolusi hijau yang dipelopori IPB yang diterapkan di Indonesia.

Menggelandang petani ke arah kesimpulan itu patut disesalkan. Petani lupa menyadari, keberhasilan usaha mereka adalah berkat Panca Usaha. Dan kesengsaraan mereka sebenarnya bukan disebabkan oleh revolusi hijau tetapi oleh kebijakan amburadul pemerintah. Penulis yakin, IPB tidak pernah memiliki pikiran atau niat menyengsarakan petani. Dengan cara itu petani memiliki daya saing yang kuat dalam menghadapi era pasar globalisasi.
Setelah mengikuti uraian ini, mudah-mudahan sekumpulan petani yang datang ke IPB dengan tuntutan agar IPB meminta maaf secara nasional karena membuat mereka sengsara akibat revolusi hijau, merenungkan kembali tuntutannya, berubah pikiran, dan berbalik merasa berterima kasih karena IPB telah berbuat baik dan jauh dari niat menyengsarakan petani. Institut Pertanian Bogor dilahirkan dari petani, diilhami oleh petani, dan berbakti bagi petani.
Goeswono Soepardi, Pengamat Pertanian.

Sumber: Kompas, Senin, 16 Oktober 2000

Satu Tanggapan to “Revolusi Hijau Mengecewakan Petani?”

  1. sugiyono Says:

    Saya setuju terhadap pernyataan penulis. Akan tetapi, IPB juga harus bertanggungjawab dengan memberi solusi baru yang dapat meningkatkan produksi pertanian yang berkelanjutan. IPB atau poemerintah perlu mempublikasikan solusi tersebut melalui berbagai media terutama televisi. karena, masyarakat pedalaman yang minat baca kurang akan menjadi tahu. dan hal ini harus segera dilakukan demi ketahanan pangan Indonesia mendatang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: