Menunggu Pagi di Bromo

Mentari paginya selalu ditunggu para pencinta alam. Kagumi akan keagungan Illahi.
Bromo Tengger Semeru mendapat satu tempat dihati.

Gunung Bromo (2392 meter dpl) adalah gunung berapi yang masih aktif dan merupakan kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Sebagai Taman Nasional, Bromo menjadi daerah yang dilindungi sebagai daerah konservasi.

Taman Nasional Bromo Tengger Semeru merupakan satu-satunya kawasan konservasi di Indonesia yang memiliki keunikan berupa laut pasir seluas 5.250 hektar, yang berada pada ketinggian ± 2.100 meter dari permukaan laut.

Di laut pasir ditemukan tujuh buah pusat letusan dalam dua jalur yang silang-menyilang yaitu dari timur-barat dan timur laut-barat daya. Dari timur laut-barat daya inilah muncul Gunung Bromo yang termasuk gunung api aktif yang sewaktu-waktu dapat mengeluarkan asap letusan dan mengancam kehidupan manusia di sekitarnya (± 3.500 jiwa).

Gunung Bromo mempunyai sebuah kawah dengan garis tengah ± 800 meter (utara-selatan) dan ± 600 meter (timur-barat). Sedangkan daerah bahayanya berupa lingkaran dengan jari-jari 4 km dari pusat kawah Bromo.

Disamping untuk tujuan pariwisata, Taman Nasional ini berfungsi pula untuk penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, konservasi dan pembinaan cinta alam.

Pengelolaannya dilaksanakan oleh Dinas Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang kantornya berada di Malang dan merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam, Departemen Kehutanan.

Eko tourism menjadi modal utama untuk ‘dijual’ oleh daerah yang ‘dikuasai’ oleh 4 pemerintah daerah yaitu, Malang, Lumajang, Probolinggo dan Pasuruan.

Bromo memiliki panorama alam yang indah, dengan dikelilingi oleh gunung berapi yang masih aktif yang mengitarinya seperti Gn. Batok (2440 meter dpl), Gn. Kepolo (3035 meter dpl), Gn.Ayek Ayek (2819 meter dpl), Gn. Jembangan (3028 meter dpl), Gn. Ider Ider (2521 meter dpl), Gn. Widodaren (2600 meter dpl) dan Gn. tertinggi di Pulau Jawa, Gn.Semeru (3676 meter dpl).

Bromo bukan hanya dikenal oleh masyarakat Indonesia tetapi juga sudah menjadi agenda kunjungan wisata bagi para wisatawan baik lokal maupun internasional. Daerah ini tidak pernah sepi dari kunjungan para turis.

Pintu gerbang utama menuju ke lautan pasir dan Gn. Bromo adalah melalui Cemorolawang. Kawasan ini merupakan daerah wisata yang paling ramai terutama pada hari libur. Banyak terdapat resort dan penginapan dengan harga yang terjangkau.

Beberapa aktivitas yang bisa ditemui didearah ini adalah berkuda menuju lautan pasir, menikmati pemandangan alam Gn. Bromo yang kadang mengepulkan asap, serta menikmati makanan dan minuman yang khas daerah Tengger seperti nasi goreng dan tempe penyet.

Namun yang menjadi tujuan utama para wisatawan yang mengunjungi tempat ini adalah matahari terbit di Gn. Bromo. Pemandangan yang sangat indah dan menjadi daya tarik tersendiri.

Untuk menikmatinya para pelancong dapat berangkat dari Cemorolawang pada jam 03.00-04.00 pagi menuju Gn. Pananjakan agar memperoleh view yang lebih luas dan bagus. Disediakan banyak kendaraan berupa Jeep Hard Top yang jumlahnya sekitar seratusan untuk mengantar para pelancong ke berbagai destinasi favorit.

Adapun keunikan lain dari Bromo adalah penduduk asli daerah ini yang terkenal dengan sebutan suku Tengger.
Suku Tengger yang berada di sekitar taman nasional merupakan suku asli yang beragama Hindu. Menurut legenda, asal-usul suku tersebut dari Kerajaan Majapahit yang mengasingkan diri.

Uniknya, penduduk suku Tengger tampak tidak ada rasa takut walaupun mengetahui Gn. Bromo itu berbahaya, termasuk juga wisatawan yang banyak mengunjungi Taman Nasional Bromo Tengger Semeru pada saat Upacara Kasodo.

Upacara Kasodo diselenggarakan setiap tahun (di bulan ke sepuluh penanggalan Tahun Saka) pada bulan purnama. Melalui upacara tersebut, masyarakat Suku Tengger memohon panen yang berlimpah atau meminta tolak bala dan kesembuhan atas berbagai penyakit.

Ritual ini dilakukan dengan dipimpin oleh para tetua adat dari 41 desa disekitar Bromo yaitu dengan cara mempersembahkan sesaji dengan melemparkannya ke kawah Gunung Bromo, sementara masyarakat Tengger lainnya harus menuruni tebing kawah dan meraih untuk menangkap sesaji yang dilemparkan ke dalam kawah, sebagai perlambang berkah dari Yang Maha Kuasa.

Perebutan sesaji tersebut merupakan atraksi yang sangat menarik dan menantang sekaligus mengerikan. Sebab tidak jarang diantara mereka jatuh ke dalam kawah.

Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:

Cemorolawang. Salah satu pintu masuk menuju taman nasional yang banyak dikunjungi untuk melihat dari kejauhan hamparan laut pasir dan kawah Bromo, dan berkemah.

Laut Pasir Tengger dan Gunung Bromo. Berkuda dan mendaki gunung Bromo melalui tangga dan melihat matahari terbit.

Pananjakan. Melihat panorama alam gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru.

Ranu Pani, Ranu Regulo, Ranu Kumbolo dan Puncak Gunung Semeru. Danau-danau yang sangat dingin dan selalu berkabut (± 2.200 m. dpl) sering digunakan sebagai tempat transit pendaki Gunung Semeru (3.676 m. dpl).

Ranu Darungan. Berkemah, pengamatan satwa/ tumbuhan dan panorama alam yang menawan.

Musim kunjungan terbaik: bulan Juni s/d Oktober dan bulan Desember s/d Januari.

Cara pencapaian lokasi: Pasuruan-Warung Dowo-Tosari-Wonokitri-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 71 km, Malang-Tumpang-Gubuk Klakah-Jemplang-Gunung Bromo menggunakan mobil dengan jarak 53 km, dan Jemplang-Ranu Pani-Ranu Kumbolo, 16 km. Atau dari Malang-Purwodadi-Nongkojajar-Tosari-Wonokitri-Penanjakan sekitar 83 km. Dari Malang ke Ranu Pani menggunakan mobil sekitar 70 menit, yang dilanjutkan berjalan kaki ke Puncak Semeru sekitar 13 jam.

Teks : Harry Tanoso/Wisatanet.com
Foto : Hendryan Nugraha/Travel Club

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: