Pengakuan Ryan : Membunuh karena Emosi Spontan

Very Idham Henyansah alias Ryan akhirnya mau buka suara. Kepada Radar Mojokerto (Grup Jawa Pos) yang menemuinya di ruang tahanan Polda Metro Jaya kemarin, tersangka pembunuh sedikitnya sebelas orang itu bercerita mulai motif pembunuhan hingga hari-harinya di tahanan.


Kemarin Ryan dijenguk keluarganya di tahanan Polda Metro Jaya. Mereka adalah kedua orang tua Ryan, Achmad Sadikun dan Siatun, serta kakak tirinya, Mulyo Wasis. Mereka datang dari rumahnya di Jombang. Itu adalah pertemuan kedua mereka sejak Ryan menjadi tersangka dan menjadi tahanan polisi. Pertemuan pertama terjadi pada 4 Agustus lalu di Mapolda Jatim, saat mereka bersama-sama diperiksa.

Mengenakan celana jins tiga perempat dan baju tahanan oranye bertulisan Badan Narkotika Provinsi DKI Jakarta, warga Jatiwates, Kecamatan Tembelang, Jombang, Jatim, itu tampak santai. Wajahnya dingin, hampir tanpa ekspresi. Emosinya juga datar-datar saja. Meski bertemu dengan kedua orang tuanya di dalam tahanan, tak ada air mata yang menetes dari kelopak mata Ryan.

Sambil berbincang santai, Siatun menyuapi Ryan dengan nasi yang dibawa dari luar. Sesekali Ryan menjawab pertanyaan koran ini.

Pria yang suka olahraga renang, fitness, dan voli itu mengatakan tidak risau atas pemberitaan media massa yang dianggap kerap memojokkan dirinya. “Banyak berita yang tidak sesuai fakta,” kata Ryan.

Tentang motif pembunuhan berlatar belakang perampasan, Ryan menampik. Dia berdalih, dari 10 korban yang dikubur di belakang rumahnya, hampir semua dibunuh karena rasa benci yang tiba-tiba muncul.

Dia mencotohkan, korban Mr X yang menurut identifikasi polisi dibunuh sekitar 2006. Menurut Ryan, dirinya membunuh Mr X lantaran dihina sebagai waria murahan. “Berapa sih hargamu?” kata Ryan menirukan ucapan laki-laki korbannya itu. Karena emosi, Ryan menjawab lantang, “Aku bisa menggaet laki-laki yang lebih cakep, lebih macho, dan lebih kaya darimu.”

Ucapan itu dia buktikan dengan menggaet artis sinetron Graddy, yang kemudian ikut dia bunuh. Ryan juga menyebut kenal baik dengan Indra L. Brugman. Ryan mengaku beberapa kali bertemu dan menelepon Indra. File foto Indra dan Ryan masih tersimpan di ponsel Nokia Communicator E 90 warna merah milik Ryan. Ponsel kelas high end itu dibeli Ryan di Jakarta tahun lalu seharga Rp 15 juta. Peranti smartphone itu kini disita penyidik Polda Metro Jaya. “Karena hanya teman biasa, saya sudah minta kepada penyidik agar nama Indra tidak masuk BAP (berita acara pemeriksaan, Red),” ujarnya. Sayang, Ryan tak mau mengungkapkan mengapa Graddy dia bunuh.

Korban lain yang dia bunuh adalah Nanik Hidayati, 28, dan Silvy Ramadhani, 3 tahun. Ibu anak itu dieksekusi Ryan di belakang rumahnya. Ryan menyebut teman sesama member fitness Marcella Jombang itu pernah mengungkapkan rasa senang kepadanya. “Saya tidak suka dengan sikap perempuan seperti itu. Ya saya habisi saja dengan anaknya,” kata Ryan.

Semua korban dieksekusi dengan cara dipukul benda tumpul pada tengkuk. Eksekusi dilakukan di dekat pintu belakang rumah Ryan. Benda tumpul itu, antara lain, barbel, potongan cor beton, dan kayu. “Kalau motif membunuh karena ingin merampas harta, saya pasti sudah kaya mendadak,” lontar Ryan.

Dia mengatakan, dirinya mendapat penghasilan dari bekerja sebagai peragawan. Dia mengaku beberapa kali naik pentas untuk fashion show di Surabaya dan Jakarta. “Dari penghasilan itu, saya bisa menabung,” ujarnya.

Pria lajang bertinggi badan 180 cm itu mengaku bahwa keinginan membunuh itu muncul spontan. Sering dia baru sadar setelah korban tewas dan tergeletak di depan matanya. “Rasanya tidak mungkin menggotong orang yang lebih berat dariku sendirian. Tapi, itu saya lakukan benar-benar dalam keadaan tidak sadar,” ujar Ryan.

Tentang lubang untuk mengubur korban-korbannya, Ryan mengaku menggali sendiri. Namun, ada satu lubang yang dia gunakan merupakan bekas kolam ikan.

Laki-laki yang rajin melakukan body treatment di salon itumenyebutkan, keanehan dalam dirinya mulai terasa sejak lulus SMP pada 1993. Saat tidur di kamarnya, dia sering mimpi buruk. Itu terjadi berulang-ulang. Bahkan, saat dia kenal dengan pacar sesama jenis, Noval, pada 2000, laki-laki PNS di Ditjen Imigrasi itu merasakan hal yang sama. Noval pernah tidur di kamar Ryan. Ryan menyebutkan, indera keenam Noval lebih peka daripada dirinya. “Noval menyebut seperti ada hawa negatif yang cukup besar di kamar dan di rumah saya,” kata Ryan.

Ryan juga menyebut agresivitasnya membunuh juga terbentuk akibat depresi yang dirasakan saat menjelang lulus SMP. Tekanan jiwa itu akibat suasana keluarga yang kurang harmonis. Dia tidak menjelaskan secara rinci persoalan di keluarganya itu. Sembari berbincang, Ryan menatap wajah kedua ortunya. “Saya saat itu menjadi sering menyendiri, entahlah. Saya juga pernah rawat inap karena dianggap mengalami kelainan jiwa selama dua minggu di RS Gatoel, Mojokerto.”

Seperti diberitakan, Ryan menjadi tersangka pembunuhan berantai terhadap sedikitnya 11 orang. Dia ditangkap setelah penemuan mayat Heri Santoso yang dimutilasi di kawasan Jakarta Selatan. Dalam pengembangan, polisi menemukan 10 kerangka mayat yang dikubur di belakang rumah Ryan di Jombang.

sumber : http://www.indopos.co.id

Iklan

Satu Tanggapan to “Pengakuan Ryan : Membunuh karena Emosi Spontan”

  1. iwan saputra Says:

    apa emang beneran ryan ama indra gay?klo emang benaran ada ga potonya?atau mungkin videonya?yg bisa ngejadiin bukti klo ryan ama indra ada hubungan?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: