Imlek dan Bangsa Kita yang Lebih Bahagia Jadi Pengemis

Hari ini etnis cina di seluruh dunia merayakan perayaan imlek,tak terkecuali pula warga etnis cina di Indonesia.Imlek yang selalu identik dengan kemeriahaan,pesta dan harapan-harapan baru dirayakan di hampir setiap sudut kota di Indonesia.

Ketika warga etnis cina larut dalam euforia perayaan imlek,apa yang terjadi dengan bangsa pribumi kita ? ( maaf,tidak bermaksud SARA )

Warga pribumi kita juga ikut larut menghadiri klenteng-klenteng di setiap kota,bukan untuk merayakan imlek,tapi justru menjadi pengemis dan mengahrapkan belas kasihan dari warga etnis cina yang dermawan.

Memalukan ?

Jelas.Tapi inilah kenyataan yang terjadi di negara kita.

Masalah kemiskinan sepertinya belum benar-benar bisa lepas dari bumi Indonesia.

Tapi sebenarnya masalahnya bukan ini saja,mental bangsa kita yang lebih bahagia menjadi pengemis daripada dermawan membuat fenomena seperti ini tidak akan pernah bisa hilang.

Penyakit mental seperti ini bukan hanya menjangkit pada rakyat kecil saja.Lihat saja sudah berapa kali pemerintah kita minta bantuan IMF untuk menyelesaikan krisis ekonomi dalam negeri,belum lagi bantuan-bantuan dari pihak lain.

Yang lebih menggelikan lagi yang sekarang lagi menjangkit di negeri ini adalah banyaknya calon wakil rakyat kita yang ikut-ikutan menjadi pengemis.Mereka mengharapkan belas kasihan dari rakyat sebagai pemilihnya dengan cara apapun.Bahkan jika harus berperan sebagai manusia paling munafik di dunia pun mereka lakukan asal rakyat memilihnya untuk duduk di kursi empuk di DPR.

Jadi janganlah heran jika 100 tahun ke depan,kita masih melihat banyak pengemis yang antre minta sedekah di depan klenteng-klenteng ketika perayaan imlek,karena kenyataannya bangsa kita adalah bangsa pengemis atau kita yang memang tidak pernah memiliki kemauan untuk berubah jadi lebih baik.

Untuk seluruh warga etnis tionghoa di seluruh Indonesia,maaf bukannya saya ingin memperkeruh suasana,tapi dari hati yang paling dalam saya malah mengucapkan terimakasih karena Anda telah memberikan pelajaran yang paling berharga bagi bangsa kami tentang pentingnya sebuah harga diri dan kerja keras agar selamanya bangsa kami tidak menjadi bangsa pengemis.

Aku,kamu,anda ,kalian dan kita adalah satu : INDONESIA

GONG XI FAT CHAI

10 Tanggapan to “Imlek dan Bangsa Kita yang Lebih Bahagia Jadi Pengemis”

  1. amat Says:

    Kalau sembako murah yang didengungkan oleh orang-orang saat ini, apakah dapat juga meningkatkan tarap hidup orang miskin : Si produsenpun pasti tahbah miskin. Si petani tak dapat menikmamati hasil panennya, harganya murah, Si nelayan tak dapat menikmati hasil tangkapannya, habis harganya murah. Ayo siapa yang diuntungkan oleh keadaan ini. Pasti si politisi, tul enggak !

  2. Eddyson Bunardi Says:

    BETUL SEKALI!!
    100 Tahun bahkan sampe dunia KIAMAT pun bangsa kita tidak akan maju.
    Pola pikir masyarakat kita yang cenderung malas tidak akan bisa berubah dari zaman ke zaman.
    Banyak yang mengatakan banyak2la berdoa supaya mndapatkan pahala!!
    Kalo cuma banyak berdoa ANDA SALAH BESAR!!
    Berdoala meminta kekuatan dan keinginan yang kuat agar kita setiap hari dapat FIGHT dalam menjalankan aktifitas.

    INGAT 1 Hal!!
    DOA tidak akan mendatangkan keuntungan secara sendirinya!!
    tapi dengan kemauan dan kerja keras setiap hari,DOA pun niscaya lambat laun akan terkabul dengan sendirinya!!

    trims

  3. hahaha Says:

    gimana ga mau punya mental pengemis…
    wong pemerintah aja ngajarin kita jadi tukang ngemis lewat program BLT nya…
    amit2 dah
    emang bener2 negara pengemis nih indonesia, ga malu apa gitu ya minta2 melulu..

  4. Treante Says:

    mau gimana lagi? Lha wong udah jadi kebiasaan!

    *kabur*

  5. koranindependen Says:

    It’s really true ! Makanya bangsa kita harus merubah pola pikir dari mengemis menjadi pemberi, minimal bisa survive. Kita lihat saja ketika tes CPNS yang baru saja berlalu, ribuan bahkan jutaan orang datang mengemis minta kerjaan. Mestinya mereka itu mikir bikin kerjaan, buka lapangan pekerjaan sendiri dengan ilmu yang sudah diperoleh selama belasan tahun menuntut ilmu. Coba lihat para etnis Cina itu, mereka lebih tertarik bikin usaha sendiri ketimbang mengemis pekerjaan. “Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah.”
    Haiya, Gong Xi Fat Chai !
    Jangan lupa untuk visite ke blog kami di http://koranindependem.wordpress.com

  6. mamas86 Says:

    Sumber kemelaratan kita sebenarnya adalah dari orang-orang yang duduk di kursi pemerintahan

  7. phito08 Says:

    ya itulah bangsa kita..

    ga pernah mau bekerja keras..

    maunya serba enak aja..

    visit my blog..
    http://phito08.wordpress.com

  8. zikri Says:

    begah bngt liat pngemis tiap hari di depok…
    coz orgx itu2 aj…tiap hari jg nongkrongx di titik2 itu mlulu…😦

  9. Dekky Says:

    saya setuju dengan koranindependent, masyarakat kita cenderung memilih menjadi “BURUH” daripada menjadi wiraswasta mereka lebih memilih seragam daripada kreatifitas, tidak semua tapi sudah memasyarakat


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: